Di Kampung Aryawenmoho, Kabupaten Manokwari Selatan, hidup seorang pemuda yang dikenal karena semangat dan kepeduliannya terhadap kampung halaman. Namanya Agustus Iba, yang akrab dipanggil Agus.
Kampung Aryawenmoho berada di kelerengan, masyarakat memanfaatkan lahan berdasarkan dengan wilayah adat masing-masing marga untuk dijadikan sebagai lahan produksi. Di kampung aryawenmoho ada beberapa kategori tanah yang di manfaatkan masyarakat seperti tanah Humus dan tanah liat. Masyarakat selalu melakukan pembukaan hutan untuk penanaman ketahanan pangan, hortikultura, dan tanaman produktif lainnya di tanah humus. Selain itu, di kampung aryawenmoho tanah liat sebagian di manfaatkan untuk tanaman pangan dan ada sebagian lahan yang dianggap masyarakat tidak memenuhi kriteri dalam bercocok tanam untuk produktifitas lainnya.
“Tanah yang berpasir di saya punya wilayah sini, saya sudah perna menanam tanaman kopi tetapi tidak bisa tumbuh, kopi semua mati” ujar petani.
Ketika asumsi masyarakat menjadi penilaian sendiri berdasarkan dengan fakta lapangan sehingga sampai saat ini lahan yang berada di Kampung Aryawenmoho khususnya Dusun Mabrouw masih ditutupi gulma.
Bagi Agus, hutan dan lahan bukan hanya tempat mencari nafkah. Alam adalah warisan yang harus dijaga agar tetap dapat dinikmati oleh anak cucu di masa depan. Karena itu, ia memilih untuk terlibat langsung dalam berbagai kegiatan yang mendukung kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Awalnya, Agus melihat banyak lahan di kampungnya yang tidak lagi diolah. Sebagian lahan mulai rusak, sementara penggunaan pupuk dan bahan kimia semakin meningkat. Kondisi itu membuatnya prihatin. Ia kemudian mengajak para pemuda kampung untuk mulai menerapkan pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Bersama teman-temannya, Agus memperkenalkan penggunaan pupuk organik dan cara mengelola sumber daya alam secara lebih bijaksana. Ia percaya bahwa tanah yang dirawat dengan baik akan memberikan hasil yang lebih sehat dan dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Tidak berhenti di situ, Agus juga memimpin kegiatan penanaman kembali di lahan-lahan yang telah mengalami kerusakan. Mereka menanam berbagai tanaman tahunan yang memiliki nilai ekonomi, seperti kakao, kopi, dan tanaman produktif lainnya. Perlahan-lahan, lahan yang sebelumnya terbengkalai mulai berubah menjadi kebun yang hijau dan produktif. Perubahan itu memberi harapan baru bagi masyarakat kampung.
Salah satu inovasi sederhana yang dilakukan Agus adalah memanfaatkan kulit kakao yang biasanya dibuang begitu saja. Limbah tersebut diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan tanah. Cara ini membantu mengurangi limbah pertanian, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, dan menekan biaya produksi petani. Masyarakat pun mulai merasakan manfaatnya secara langsung.
Semangat dan kerja nyata Agus membuat masyarakat semakin percaya kepadanya. Pada April 2026, ia mencalonkan diri sebagai Ketua Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) melalui musyawarah kampung. Berkat dukungan warga, Agus terpilih sebagai Ketua BUMKam untuk periode 2026–2029.
Setelah dilantik, Agus segera mengajak para pengurus BUMKam untuk berdiskusi dan menyusun langkah-langkah pengembangan usaha kampung. Ia juga melibatkan Mnukwar sebagai mitra untuk memperkuat kapasitas kelembagaan BUMKam. Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, para pengurus belajar tentang manajemen organisasi, penyusunan rencana usaha, dan pengelolaan unit bisnis yang berkelanjutan.
Perubahan mulai terlihat. BUMKam menjadi lebih aktif dan memiliki arah kerja yang lebih jelas. Dengan semangat baru tersebut, Agus menggagas usaha pembibitan kopi lokal sebagai salah satu unit usaha BUMKam.
Melalui fasilitasi para Community Organizer, BUMKam kemudian berhasil memulai budidaya bibit kopi lokal dan kakao. Bibit-bibit tersebut disiapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjadi sumber pendapatan baru bagi BUMKam.
Bagi Agus, pembibitan bukan sekadar usaha ekonomi. Ia ingin agar pemuda kampung memiliki kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan pertanian yang produktif dan berkelanjutan. Dengan adanya usaha ini, masyarakat tidak hanya memperoleh bibit berkualitas, tetapi juga memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan keluarga dan memperkuat ekonomi kampung.
Kisah Agus menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana. Dengan memanfaatkan potensi lokal, menjaga kelestarian lingkungan, dan melibatkan masyarakat, ia berhasil mengubah lahan yang tertidur menjadi sumber harapan baru bagi Kampung Aryawenmoho. Semangatnya menjadi bukti bahwa pemuda kampung mampu menjadi penggerak utama dalam membangun masa depan yang lebih hijau, mandiri, dan berkelanjutan.
Pengembangan Bibit Kopi dan Kakao
Pengembangan budidaya bibit kopi lokal dan kakao yang dilakukan BUMKam Sohoja Aryawenmoho menunjukkan perkembangan yang cukup baik sepanjang April hingga Juli 2026. Pada bulan April, BUMKam berhasil membudidayakan 950 bibit kopi lokal. Kegiatan pembibitan kemudian dilanjutkan pada bulan Mei dengan tambahan 300 bibit kakao.
Memasuki bulan Juni, jumlah bibit kembali bertambah, yaitu 50 bibit kopi lokal dan 550 bibit kakao. Dengan demikian, total bibit yang berhasil dikembangkan hingga Juli 2026 mencapai 1.000 bibit kopi lokal dan 850 bibit kakao.
Mengubah Lahan Tandus Menjadi Produktif
Salah satu hasil nyata dari pengembangan dua komoditas unggulan oleh BUMKam Sohoja Aryawenmoho adalah keberhasilan memanfaatkan lahan tandus menjadi kawasan budidaya yang produktif. Di bawah kepemimpinan Agus, BUMKam menanam 100 bibit kopi lokal di lahan yang sebelumnya dianggap tidak memiliki potensi untuk kegiatan pertanian.
Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa lahan yang semula dipandang tidak produktif dapat diubah menjadi sumber penghidupan masyarakat apabila dikelola dengan pola tanam yang tepat dan perawatan yang baik. Perubahan ini juga menjadi contoh bagi masyarakat bahwa keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti berusaha.
Ke depan, BUMKam menargetkan penanaman sekitar 500 bibit kopi lokal di kawasan sekitar Dusun Mabrouw. Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi kopi, tetapi juga menjaga kelestarian sumber mata air, memulihkan lahan yang terdegradasi, serta menambah tutupan vegetasi di sekitar dusun.
Pada awalnya, warga Dusun Mabrouw meragukan bahwa lahan tersebut tidak dapat digunakan untuk bercocok tanam. Namun, Agus bersama anggota BUMKam dan Community Organizer Mnukwar berkomitmen membuktikan sebaliknya. Melalui kerja keras, pendampingan, dan inovasi dalam pola penanaman, mereka berhasil menunjukkan bahwa tanaman kopi lokal dapat tumbuh dengan baik di kawasan tersebut.
Kakao untuk Menguatkan Ekonomi Kampung
Selain kopi, BUMKam juga terus memperkuat budidaya kakao sebagai komoditas unggulan kampung. Sebanyak 600 bibit kakao yang telah dibudidayakan direncanakan untuk didistribusikan kepada enam kelompok tani di masing-masing dusun.
Distribusi bibit ini diharapkan dapat memperluas areal budidaya kakao, meningkatkan produktivitas kebun masyarakat, memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga, serta mendorong pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan melalui pengembangan komoditas berbasis masyarakat.
Inovasi Pupuk Organik dari Kulit Kakao
Salah satu inovasi penting yang diterapkan dalam budidaya kopi dan kakao adalah penggunaan pupuk dasar organik yang dibuat dari limbah kulit kakao. Sebelumnya, kulit kakao hanya dibiarkan berserakan di kebun dan dianggap tidak memiliki nilai manfaat.
“Saya punya kulit kakao banyak dikebun, kalau kalian mau buatkan pupuk nanti ambil saya punya kulit kakao di kebun” ujar Esra Bosimyei
Melalui pendampingan yang dilakukan bersama Community Organizer, limbah tersebut diolah menjadi pupuk organik untuk mendukung pertumbuhan tanaman kopi dan kakao. Pada tahap awal yang dilaksanakan pada bulan Mei 2026, BUMKam berhasil memproduksi satu karung pupuk organik seberat sekitar 20 kilogram. Pupuk tersebut kemudian diaplikasikan pada tanaman kopi yang telah ditanam sebanyak 100 pohon.
Penggunaan pupuk organik ini membantu meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki struktur tanah, dan mendukung pertumbuhan tanaman secara lebih berkelanjutan. Selain itu, pemanfaatan limbah kulit kakao juga memberikan nilai ekonomi baru bagi BUMKam dan petani di masyarakat kampung aryawenmoho dan direncakan menjangkaun lebih banyak stackholder di Kabupaten Manokwari Selatan. Bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan budidaya untuk tanaman kopi, kakao, holtikultura dan tanaman produktif lainnya. Dengan cara ini, petani dapat mengurangi ketergantungan terhadap inport pupuk dan menerapkan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Pembuatan Pestisida Nabati
Tidak hanya mengembangkan pupuk organik, Community Organizer juga melakukan peningkatan kapasitas pengurus BUMKam melalui pelatihan pembuatan pestisida nabati. Kegiatan ini berawal dari hasil pengamatan di lapangan yang menemukan banyak botol bekas pestisida kimia dibuang di sekitar kebun dan sepanjang aliran sungai.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena dapat mencemari lingkungan dan mengancam kualitas sumber air yang digunakan masyarakat sehari-hari. Oleh karena itu, pengurus BUMKam diperkenalkan pada pemanfaatan bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar kampung untuk membuat pestisida nabati yang lebih aman bagi lingkungan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga menjaga kesehatan tanah, air, dan lingkungan sekitar. Melalui berbagai inovasi sederhana tersebut, BUMKam Sohoja Aryawenmoho perlahan menunjukkan bahwa potensi lokal dapat menjadi kekuatan utama untuk membangun kampung yang lebih mandiri, hijau, dan berkelanjutan.
Penutup
Melalui pelatihan dan pendampingan, Agus bersama anggota BUMKam mulai mempelajari berbagai jenis tanaman lokal yang dapat digunakan sebagai bahan alami untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Mereka kemudian mengidentifikasi tanaman-tanaman yang memiliki kandungan bahan aktif dan mudah ditemukan di sekitar kampung.
Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, Agus dan anggota BUMKam mempraktikkan pembuatan pestisida nabati dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Pada produksi perdana, mereka berhasil menghasilkan sekitar 10 liter pestisida nabati yang kemudian digunakan pada kebun percontohan milik petani.
Hasil awal ini memberikan harapan baru bagi masyarakat karena pestisida nabati dapat membantu mengendalikan hama tanpa menimbulkan dampak buruk sebagaimana penggunaan pestisida kimia secara berlebihan. Selain lebih aman bagi tanah dan sumber air, bahan-bahan yang digunakan juga mudah diperoleh sehingga biaya pembuatannya relatif lebih murah.
Ke depan, Agus dan BUMKam berencana terus meningkatkan produksi pestisida nabati agar dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak petani di Kampung Aryawenmoho. Inisiatif ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun sistem pertanian yang lebih sehat, hemat biaya, aman bagi masyarakat, dan ramah terhadap lingkungan.